Tuesday, 21 June 2016

Harga Sebuah Hati

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas Satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok. Petugas Satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya, tapi wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya. Petugas Satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa, tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa. Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas Satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya, “Maaf, Nona... Apakah Anda sedang menunggu seseorang?”
“Tidak!” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
“Lantas untuk apa Anda duduk di sini?”
“Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas Satpam.
“Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
“Maksud, Bapak?”
“Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk di sini”
“Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual,” kata wanita itu dengan suara lambat.
“Jual? Apakah Anda menjual sesuatu di sini?” Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu.
Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
“O.K. lah. Apapun yang akan Anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”
“Saya ingin menjual diri saya,” kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam ke arah petugas Satpam itu. Petugas Satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
“Mari ikut saya,” kata petugas Satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah petugas Satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas Satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

“Apakah Anda serius?”
“Saya serius,” jawab wanita itu tegas.
“Berapa tarif yang Anda minta?”
“Setinggi-tingginya.”
“Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

“Saya masih perawan.”
“Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri.
Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini... Pikirnya.
“Bagaimana saya tahu Anda masih perawan?”
“Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan... Ya, kan...”
“Kalau tidak terbukti?”
“Tidak usah bayar”
“Baiklah...” Petugas Satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan. “Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan Anda.”
“Cobalah.”
“Berapa tarif yang diminta?”

“Setinggi-tingginya.”
“Berapa?”
“Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”

“Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.” Petugas Satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.Tak berapa lama kemudian, petugas Satpam itu datang lagi dengan wajah cerah. “Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta 5 juta. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”
“Ini termasuk yang tertinggi,” petugas Satpam itu mencoba meyakinkan.

"Saya ingin yang lebih tinggi...”
“Baiklah. Tunggu di sini...” Petugas satpam itu berlalu. Tak berapa lama petugas Satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri. “Saya dapatkan harga yang lebih tinggi, 6 juta. Bagaimana?”
“Tidak adakah yang lebih tinggi?”

“Nona, ini harga sangat pantas untuk Anda. Cobalah bayangkan, bila Anda diperkosa oleh pria, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Atau andai keperawanan Anda diambil oleh pacar Anda, Anda pun tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali janji. Dengan uang 6 juta Anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya Anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, Anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adil, kan? Kita sama-sama butuh...”
“Saya ingin tawaran tertinggi...” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas Satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat. “Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya Anda ikut saya. Tolong kancing baju Anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli,” kata petugas Satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas Satpam itu, tapi tetap mengikuti langkah petugas Satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
“Ini yang saya maksud, Tuan. Apakah Tuan berminat?” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu... “Berapa?” Tanya pria itu kepada wanita itu.

“Setinggi-tingginya,” jawab wanita itu dengan tegas.
“Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” Tanya pria itu kepada sang petugas Satpam.
“ 6 Juta, Tuan”

“Kalau begitu saya berani dengan harga 7 juta untuk semalam.”
Wanita itu terdiam. Petugas Satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
“Bagaimana?” tanya pria itu.
“Saya ingin lebih tinggi lagi...” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
“Bawa pergi wanita ini,” kata pria itu kepada petugas Satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
“Nona, Anda telah membuat saya kesal. Apakah Anda benar-benar ingin menjual?”
“Tentu!”
“Kalau begitu mengapa Anda menolak harga tertinggi itu?”

“Saya minta yang lebih tinggi lagi...”
Petugas Satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya. “Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
“Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta? Apakah itu tidak cukup?” Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika. “Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita enggak ketemu, ya sayang?'”
Kini petugas Satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu. Dengan tenang, petugas Satpam itu berkata kepada pria itu: “Pak, apakah Anda butuh wanita?”
Pria itu menatap sekilas ke arah petugas Satpam dan kemudian memalingkan wajahnya. “Ada wanita yang duduk di sana.” Petugas Satpam itu menujuk ke arah wanita tadi. Petugas Satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

“Dia masih perawan.” Pria itu mendekati petugas Satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter.
“Benarkah itu?”
“Benar, pak.”
“Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu...”
“Dengan senang hati. Tapi, Pak... Wanita itu minta harga setinggi-tingginya.”
“Saya tidak peduli ...” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu. 
“Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah...” Kata petugas Satpam itu dengan nada kesal.
“Mari kita bicara di kamar saja,” kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas Satpam itu.
Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya. Di dalam kamar...
“Beritahu berapa harga yang kamu minta?”
“Seharga kesembuhan ibu saya dari penyakit.”
“Maksud kamu?”
“Saya ingin menjual satu-satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih...”
“Hanya itu?”
“Ya!”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar bahwa di hadapannya ada kehormatan yang tak ternilai, melebihi dari keperawanan wanita, yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut, melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan di atas keyakinan tak tertandingi bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

“Siapa nama kamu?”
“Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa Bapak bayar,” jawab wanita itu.
“Saya tak bisa menyebutkan harganya, karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar.”
“Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!”
“Ada !” Kata pria itu seketika.
"Sebutkan!”
“Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah,” kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

"Saya tidak mengerti.”
“Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya, tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi, maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orangtuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar.”
“Dan apakah Bapak ikhlas?”
“Apakah uang itu kurang?”
“Lebih dari cukup, Pak.”
"Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”
“Silahkan.”
“Mengapa kamu begitu beraninya?”
“Siapa bilang saya berani. Saya takut, Pak. Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya, maka itu bukanlah karena dorongan nafsu, bukan pula pertimbangan akal saya yang bodoh. Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan.”
“Keyakinan apa?”
“Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan-lah yang akan menjaga kehormatan kita...” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar. Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata, “Lantas apa yang Bapak dapat dari membeli ini?”
“Kesadaran...”
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

“Kamu sudah pulang, Nak.”
“Ya, Bu...”

“Kemana saja kamu, Nak?”
“Menjual sesuatu, Bu.”
“Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum...
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan... 

“Kini saatnya ibu untuk berobat...” Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata, “Tuhan telah membeli yang saya jual...”
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi, “Antar kami ke rumah sakit, Pak...”

Thursday, 26 May 2016

Untuk Papa dan Mama

 Papa yang kurindukan...

Papa, pandanglah aku dan lihatlah mataku. ApakahKau lihat kerinduanku untuk bersamamu. Bermain bersama-sama, menggendongku, mengajakku berjalan-jalan serta membelikanku ice cream seperti yang dulu kita lakukan bersama. Sekarang Papa jarang bersamaku lagi. Setiap aku mengajak Papa jalan-jalan atau mendongeng untukku, Papa selalu berkata,”Papa tidak sempat sayang, pekerjaan Papa banyak” atau Papa berkata:”Sayang, lain kali saja yah. Hari ini Papa capek”. Benarkah tidak ada lagi waktu Papa untukku?

Walaupun Papa sering membelikanku hadiah, bukan itu yang kuinginkan. Aku rindu kasih sayang Papa, Aku rindu pelukanmu dan usapanmu di kepalaku. Aku lebih senang jika Papa tidak bekerja dan di rumah saja menemani aku, tapi Mama bilang kalau Papa tidak bekerja nanti kita tidak bisa makan.
Apakah semua pekerjaan itu jahat sampai mengambil semua waktu Papa bersamaku? Sering aku nakal tapi sebenarnya bukan maksudku untuk nakal. Kupikir dengan  cara inilah Papa baru memperhatikan aku. Papa berikanlah waktumu untukku. Aku membutuhkan kasih sayang dan perlindunganmu.

Mama yang baik.....
Aku mau mama selalu di dekatku, menyayangi aku dengan penuh kasih. Karena mamalah yang paling sering bersamaku. Pakaian dan mainan yang mama berikan itu baik, tapi aku lebih suka kalau mama memeluk dan menemaniku ketika aku tidur dan mengajariku berdoa dan mamalah yang ingin kulihat di saat aku bangun pagi.
Mama yang selalu berkata agar aku tidak nakal, tetapi tahukah mama mengapa aku nakal? Aku ingin mendapat perhatian dari Mama. Hanya usapan tangan Mama yang lembut, tatapan mata yang penuh kasih dan pelukan hangat yang kurindukan.

Papa dan Mama yang terkasih...
Aku memang belum tahu bagaimana kehidupan orang dewasa. Aku belum tahu masalah yang mereka hadapi. Tetapi apakah semua orang dewasa selalu menumpahkan kekesalannya kapada anak-anak? Papa dan Mama, bukankah Papa dan Mama dulu juga pernah kecil? Aku senang dan bahagia sekali bila kita bisa bersama-sama bermain dan tertawa bersama. Itu akan kuingat hingga aku dewasa nanti. Tetapi aku benci sekali bila Papa dan Mama berselisih di depanku. Aku pikir orang dewasa juga seperti anak kecil, suka bertengkar! Padahal kalau kami bertengkar, Papa dan Mama selalu memarahi kami.

Aku mau menjadi seperti Yesus yang kudengar di Sekolah Minggu, baik dan penuh kasih kepada orang lain. Tolonglah, Papa dan Mama menjadi teladanku agar aku bisa menjadi seperti Yesus. Dan aku akan menjadi baik bila Papa dan Mama bisa menjadi teladanku yang baik.

dari Anak Papa-Mama

Monday, 7 December 2015

😰 P A N A S 🚂

Seorang eksekutif muda, dengan jas elegan berdiri di disana berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Sesaat kemudian, ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.

Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.

Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?

Seorang nenek membatin, "Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi, pamer-pameran."

Seorang emak membatin, "Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji."

Seorang gadis ABG membatin, "Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan?"

Seorang pengusaha membatin, "Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. Andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?"

Seorang pemuka agama melirik, "Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu, pamer!"

Seorang pelajar SMA membatin, "Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue."

Seorang tunawisma membatin, "Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil."

Si eksekutif menyimpan kembali tabletnya di tas. Ia membatin, "Puji Tuhan, akhirnya para donatur bersedia membantu. Puji Tuhan, ini kabar baik sekali." Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.

Ia membatin "Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu.  Mudah-mudahan manfaat."

Sahabat..
Begitu berbahaya nya penghakiman. Sebuah kebaikan, tindakan kasih, bisa berubah total menjadi kejahatan hanya karena persepsi kita.

Jaga persepsi kita, semua tak perlu kita nilai seperti penampakannya.

Bahagia Itu Sederhana

Alkisah seekor gagak yang tinggal di hutan merasa sangat puas dengan hidupnya.

Akan tetapi pada suatu hari dia melihat seekor Angsa,
dan Angsa ini sangat putih.
Lalu dia berpikir bahwa Angsa ini pasti burung yang paling bahagia di dunia.

Lalu di sampaikan pikirannya ini pada si Angsa.

Dan si Angsa menjawab:
Dulu aku juga berpikir bahwa akulah burung yang paling bahagia di dunia ini, sampai aku ketemu Betet, yang mempunyai bulu dua warna.
Sekarang aku pikir Betet adalah burung yang paling bahagia sedunia.

Lalu burung Gagak mendekati Betet, dan si Betet menjelaskan:
Sebelumnya saya hidup dengan sangat bahagia sampai saya melihat burung Merak.
Saya hanya punya bulu dengan 2 warna, tapi Merak punya bulu yang warna warni.

Mendengar penjelasan itu, Gagak menemui Merak, lalu berkata:
Merak, kamu sangat cantik, setiap hari ribuan orang datang ingin melihatmu.
Beda dengan ketika melihatku, mereka mengusirku.
Saya rasa benar kamu adalah burung yang paling bahagia sedunia.

Lalu Merak menjawab:
Saya dulu juga berpikir bahwa saya burung yang paling cantik dan bahagia dibumi ini.
Justru karena kecantikanku ini saya jadi dikurung dikebun binatang.
Saya sudah perhatikan dengan seksama, dan saya menyadari bahwa hanya Burung Gagak yang tidak dimasukkan kedalam sangkar.
Dalam beberapa hari aku berpikir bahwa kalau saja aku jadi burung Gagak, saya bisa bahagia dan bebas pergi kemanapun.

Itulah problem kita semuanya?

Kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain yang sebenarnya tidak perlu dan karenanya kita menjadi sedih.
Kita kurang menghargai apa yang sudah kita hasilkan dengan Keringat Sendiri.
Ini semua membawa kita kepada Lingkaran Setan yang tidak bahagia.

Belajar bahagia adalah dengan menghargai apa yang kita punya dari apa yang kita hasilkan, bukan menyesali yang kita tidak punya.

Selalu akan ada orang yang punya lebih banyak atau lebih sedikit dari kita.
Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain dan mulailah bersyukur buat apa yang ada dalam hidup kita.
Disitulah Kebahagiaan sesungguhnya..Gbu

Sunday, 29 November 2015

DILEBIHI ATAU DIKURANGI ?

Sebuah toko khusus yang menjual buah, ada seorang pelayan toko yang tampaknya lebih disukai daripada pelayan lainnya.

Satu ketika, pemilik toko bertanya kepada pelayan itu.

Jawabannya ternyata sangat sederhana: "Saat menimbang, pelayan lain sering mengambil buah kebanyakan, lalu kemudian mengurangi buah itu sesuai timbangannya. Kalau saya melakukan yang sebaliknya. Saat awal mengambil buah, saya tidak mengambil terlalu banyak, lalu ketika ditimbang saya tambahi lagi sedikit demi sedikit agar pas dengan timbangan itu.”

Dilayani seperti ini ternyata pembeli senang, seolah-olah mereka merasa diuntungkan.

Buah yang ditakar sama, namun cara menimbang ternyata bisa membuat perbedaan besar.

Pembeli yang melihat bahwa buah itu ditambahkan sedikit demi sedikit dalam timbangannya ternyata lebih senang karena merasa dilebihi.

Sebaliknya, pembeli yang melihat bahwa buahnya dikurangi sedikit demi sedikit cenderung merasa kurang senang karena merasa buahnya dikurangi.

Padahal jumlahnya sama!

Kecenderungan  manusia: selalu ingin lebih, lebih, dan lebih lagi.

Demikian juga banyak orang percaya memandang kelimpahan secara keliru, yaitu minta ditambah, ditambah, dan terus ditambah demi kepuasan diri sendiri, padahal apa yang dimilikinya sudah lebih dari cukup.

Orang-orang seperti ini akan selalu merasa kurang walaupun semua kebutuhannya sudah tercukupi.

Jangan sampai kita memiliki sikap serakah seperti ini.

Syukurilah hidup kita.

Kekurangan dan kelebihan sama-sama kita syukuri sebab kita percaya bahwa TUHAN sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa untuk mendatangkan kebaikan bagi kita pada akhirnya.


“Kita menikmati kehangatan karena pernah kedinginan.” (David L. Weatherford)

Wednesday, 25 November 2015

Hidupi Kebenaran

Dunia hiburan musik Indonesia sempat diramaikan oleh sebuah lagu yang berjudul "Jadikan aku yang kedua", yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita, Astrid. Lagu ini mengisahkan tentang seorang wanita yang menyukai seorang pria yang sudah memiliki kekasih. Namun, si wanita ini justru ingin jika dijadikan yang kedua oleh sang pria, dengan kata lain rela dijadikan sebagai simpanan atau selingkuhan.
Cinta itu adalah pemberian Tuhan. Cinta tidak hanya mengandalkan perasaan manusia saja, karena jika demikian akan banyak orang  yang terjebak dalam percintaan yang salah. Kita harus melibatkan Tuhan. Itu berarti, seseorang yang mencintai orang lain haruslah menyelidiki apakah perasaannya itu sudah sesuai dengan kemauan Tuhan dengan aturan-aturanNya atau hanya muncul dari kedagingan saja. Sangat jelas bahwa Tuhan membenci percabulan dan perselingkuhan. Tuhan menginginkan keluarga kristiani menjadi keluarga yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun kecuali kematian. Jika ada seseorang yang meninggalkan pasangannya demi orang lain atau menduakannya, itu merupakan hal yang sangat dibenci oleh Tuhan dan bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Bagi yang telah berumah tangga, hindari keterlibatan pribadi dengan pasangan lain. Bagi pemuda dan pemudi yang sedang maupun akan menjalin hubungan, pilihlah untuk menjalani hubungan yang takut akan Tuhan. Hubungan yang dikehendakiNya, adalah adanya kesetiaan dan kekudusan. Ingat! Iblis akan terus mencari celah bagi anak-anakNya agar mereka jatuh dalam pencobaan.
Zakharia 7:9  "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!"

Tuhan memberkati.

Tuesday, 24 November 2015

Engkau berharga

Dia berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn, New York, ia melewati kehidupannya dlm lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kpdnya: “Menurutmu, brp nilai pakaian ini?” Ia menjawab: “Mungkin USD 1.” “Bisakah dijual seharga USD 2? Jk berhasil, berarti engkau telah membantu ayah dan ibumu “Saya akan mencobanya,” ia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil menjual USD 2 dan berlari pulang,

Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kpdnya: “Coba engkau menjual seharga USD 20?” Bgmn mungkin? Pakaian ini paling hanya USD 2. Ayahnya berkata “Mengapa engkau tdk mencobanya dulu? ” Akhirnya, ia mendapatkan ide, ia meminta bantuan sepupunya utk menggambarkan seekor Donal Bebek yg lucu dan seekor Mickey Mouse yg nakal pada pakaian itu, ia lalu menjualnya di sekolah anak org kaya, dan laku USD25,

ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya: “Apakah engkau mampu menjualnya dgn harga USD 200?.Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di New York,sehabis konferensi pers, ia pun menerobos penjagaan pihak keamanan dan meminta Farrah Fawcett membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya.dan kemudian terjual USD 1500.

Malam nya. Ayahnya bertanya: “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini apa yg engkau pahami?” Ia menjawab “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya. ”Ayahnya menggelengkan kepala: “engkau tdk salah!

Tapi bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu bahwa sehelai pakaian bekas yg bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia? Mungkin kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”

Sejak itu, ia belajar dgn lebih giat dan menjalani latihan lebih keras, dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal ke seluruh dunia. Ia adalah MICHAEL JORDAN!