🔍 ADA 4 TIPE MANUSIA
1. Huang Ti Sen, Huang Ti Gu (Badan raja, tulangnya juga tulang raja).
Golongan ini untuk, orang kaya dan jiwanya juga kaya sehingga menggunakan kekayaannya untuk dinikmati, juga mau berbuat Amal / Kebajikan .
2. Huang Ti Sen, Ji Kai Gu ( Badan raja, tapi tulang pengemis ).
Golongan ini menggambarkan, orang kaya tapi tidak bisa menikmati uangnya.
Kerjanya sibuk terus menerus untuk mencari uang.
Jangankan untuk berbuat kebajikan, setiap tindakannya saja dihitung untung-ruginya.
Memiliki mobil bagus cuma bisa di-elus-elus saja, malah banyak supir atau pegawainya yang pakai...
Dunianya cuma toko atau tempat kerjanya.
Tahu-tau sudah tua...
(Banyak yang model gini disekeliling kita ).
3. Ji Kai Sen, Huang Ti Gu (Badan pengemis, tapi tulang raja).
Golongan ini menggambarkan, orang yang secara materi biasa-biasa saja, tapi bisa menikmati hidupnya.
Walaupun hidupnya pas-pasan, tapi bermental kelimpahan berjiwa sosial.
4 Ji Kai Sen, Ji Kai Gu (Badan pengemis, tulang juga pengemis).
Golongan ini paling parah, sudah miskin bermental pengemis... sudah kerja punya duit, mentalnya minta dikasihani terus, istilah kerennya bermental "poor me" atau kasihanilah saya.
Dalam menjalani kehidupan ini, jika kita benar-benar menjalankan ajaran kebajikan dengan benar, maka tidak mungkin bisa sampai terpuruk.
Yang mesti diingat bahwa, "Tidak punya uang itu hanya bersifat sementara, tapi kalau merasa Miskin itu Mental yang akan terus menempel dalam Pikiran & Perbuatan".
BELAJARLAH HIDUP CHIN CHAI
Orang tua selalu menasehati kita kalau mau hidup banyak sahabat, relasi yang baik, keluarga harmonis, dagangan lancar dan hidup menjadi santai dan enjoy, maka jadilah orang yang "chin chai".
Chin chai artinya tidak terlalu banyak perhitungan plus Easy Going.
Orang yang terlalu perhitungan setiap detik, otaknya dipenuhi dengan angka angka.
Jiwanya disesaki oleh dua kata yang paling penting dalam hidupnya yaitu UNTUNG dan RUGI.
Hatinya selalu Cemas dan Gelisah memikirkan bagaimana meraup keuntungan habis habisan dan memblokir semua bentuk kerugian.
Serambut kerugian dipandang serius dan besar bagai Gunung Semeru.
Suka Tarik Urat, bersilat lidah, ngotot dan gontok gontokan, hanya untuk masalah sepele.
Orang yang perhitungan tak pernah mau mengalah apa lagi memberi dan berkorban.
Sikap perhitungan membuat hidup tegang, kuatir, capek dan menderita.
Belajarlah menjadi CHIN CHAI
Orang 'chin chai' selalu mengalah dan memberi, toleransi dan pengertian, gampang bekerja sama, mudah diajak berunding, sehingga punya banyak sahabat.
Rejekinya lancar, hidupnya tenang, ceria dan tidak banyak "Gejolak".
Dia dan keluarganya hidup lebih sehat, harmonis, bahagia dan enjoy.
Memang benar nasihat orang tua,
CHIN CHAI adalah Kunci Hidup Sukses dan bahagia. GBU.. 🙏
Tuesday, 31 January 2017
Tuesday, 17 January 2017
ONE STORY, TWO PERSPECTIVES
Seorang penulis buku yang terkenal duduk di ruang kerjanya...dia mengambil penanya... dan mulai menulis :
"Tahun lalu... saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang.
Di tahun yang sama.... saya berusia 60 tahun dan memasuki usia pensiun, keluar dari pekerjaan di perusahaan yang begitu saya senangi...saya harus tinggalkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama 35 tahun.
Di tahun itu juga..saya ditinggalkan ayah yang tercinta.
Kemudian... masih di tahun yang sama anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah puncak kesialan di tahun lalu..."
Di bagian akhir dia menulis :
"Sungguh...tahun yang sangat buruk !"
Istri sang penulis masuk ke kamar itu dan menjumpai suaminya yang sedang sedih dan termenung. Dari belakang...sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur dan keluar dari ruangan itu...
15 menit kemudian dia masuk lagi dan meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut :
"Tahun lalu... akhirnya saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya yang selama bertahun-tahun membuat perut saya sakit.
Di tahun itu juga...saya bersyukur bisa pensiun dengan kondisi sehat dan bahagia. Saya bersyukur kepada Tuhan sudah diberikan kesempatan berkarya dan penghasilan selama 35 tahun untuk menghidupi keluargaku.
Sekarang... saya bisa menggunakan waktu saya lebih banyak untuk menulis, yang merupakan hobi-ku sejak dulu ...
Pada tahun yang sama... ayah saya yang berusia 95 tahun... tanpa sakit apa2 telah mengakhiri hidupnya dengan damai dan bahagia.
Dan masih di tahun yang sama pula... Tuhan telah melindungi anak saya dari kecelakaan yang hebat.....Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut... tapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun..."
Pada kalimat terakhir istrinya menulis :
"Tahun lalu.... adalah tahun yang penuh berkat yang luar biasa dari Tuhan.... dan kami lalui dengan penuh rasa takjub dan syukur..."
Sang penulis tersenyum haru... dan mengalir rasa hangat di pipinya... Ia berterima kasih atas sudut pandang berbeda untuk setiap peristiwa yang dilaluinya tahun lalu... Perspektif yang berbeda membuatnya bahagia.
Sahabatku, di dalam hidup ini kita harus mengerti bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur. Namun rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.
Mari kita berlatih melihat suatu peristiwa dari sudut pandang positif.
"We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have roses" - Abraham Lincoln
Monday, 16 January 2017
Reward
“Selamat pagi” kata seorang wanita saat ia berjalan menuju pria yg duduk di bangku taman.
Pria itu perlahan mendongak.
Ini jelas seorang wanita kelas atas yg terbiasa dengan hal2 terbaik dari kehidupan seperti mantel barunya. Dia tampak seperti tidak pernah melewatkan hidangan makan dalam hidupnya.
Pikiran pertama adalah bahwa wanita itu ingin mengolok-olok dia, seperti banyak yg telah orang lain lakukan sebelumnya .
"Tinggalkan aku sendiri," geram pria itu ....
Sangat mengherankan, wanita itu terus berdiri di depannya.
Dia tersenyum dengan gigi putih berbaris dan menyilaukan. "Apakah kau lapar?" wanita itu bertanya.
"Tidak," jawab pria itu sinis. "Aku baru saja makan bersama presiden. Sekarang pergilah kau."
Senyum wanita itu menjadi lebih lebar. Tiba-tiba pria itu merasakan tangan lembut di bawah lengannya.
"Apa yang kau lakukan?" pria itu bertanya dengan marah. "Saya katakan, tinggalkan aku sendiri.”
Dari kejauhan seorang polisi datang mendekat. "Apakah ada masalah, Bu?" tanya pak polisi.
"Tidak ada masalah di sini, pak," jawab wanita itu. "Aku hanya berusaha untuk membantu pria ini berdiri. Maukah Anda menolong saya?"
Polisi itu menggaruk kepalanya. "Itu si tua Jack. Dia sudah tinggal menetap di sini selama bertahun-tahun. Apa yang Anda inginkan dengan Jack?"
"Lihat cafe di sana?" tanya wanita itu. "Aku akan membelikan sesuatu untuk dimakan dan menghindarkan pria ini dari hawa dingin untuk sementara."
"Apakah kau gila?" pria tunawisma menolak maksud baik wanita itu. "Saya tidak ingin masuk ke sana!" Lalu ia merasa tangan yang kuat menyambar lengannya yg lain dan mengangkatnya. "Biarkan aku pergi, pak polisi. Saya tidak melakukan apa-apa."
"Ini adalah kesempatan yang baik untuk Anda, Jack" polisi itu menjawab. "Jangan mensia-siakan itu .."
Akhirnya, dan dengan susah payah, wanita dan polisi membawa Jack ke cafe dan mendudukkan dia di sebuah sudut meja. Saat itu pagi menjelang siang, sehingga sebagian besar dari kerumunan orang untuk sarapan telah pergi dan waktu makan siang belum tiba ...
Manager di cafe itu berjalan menuju meja. "Apa yang terjadi di sini, pak?" Dia bertanya. "Apakah pria ini dalam kesulitan?"
"Wanita ini membawa pria ini di sini untuk diberi makan," jawab polisi itu.
"Tidak di sini!" Manager itu menjawab dengan marah. "Melayani orang seperti ini di sini adalah buruk bagi bisnis kami."
Si tua Jack tersenyum menyeringai ompong. "Hi wanita, lihatkah. Aku sudah bilang begitu. Sekarang jika Anda akan membiarkan saya pergi. Saya tidak ingin datang ke sini lagi."
Wanita itu berpaling ke manager cafe dan tersenyum : "Pak, apakah Anda kenal baik dengan perusahaan Eddy and Associates, perusahaan keuangan di jalan seberang?"
"Tentu saja saya kenal baik," manager itu menjawab dengan tidak sabar. "Mereka mengadakan pertemuan mingguan mereka di salah satu ruang istimewa di cafe saya ini."
"Dan anda mendapatkan sejumlah besar uang dengan menyediakan makanan di pertemuan-pertemuan mingguan itu, bukan?" sahut wanita itu.
"Apa hubungannya dengan Anda?" jawab manager cafe.
“Saya adalah Penelope Eddy, President dan CEO dari perusahaan Eddy and Associates.”
"Oh."
Wanita itu tersenyum lagi. "Saya pikir siapa saya mungkin bisa membuat perbedaan." Wanita itu melirik polisi yang sibuk menahan tawa. "Apakah Anda ingin bergabung dengan kami untuk makan, pak polisi?"
"Tidak, terima kasih, Bu," jawab polisi itu. "Saya sedang bertugas."
"Atau, mungkin, secangkir kopi untuk menemani anda bertugas?"
"Ya, Bu. Itu bagus, terima kasih."
Manager cafe berbalik, "Aku akan menyediakan kopi anda segera, pak polisi."
Polisi itu mengawasinya berjalan pergi. "Anda pasti sudah membuat dia malu" katanya.
"Itu bukan maksud saya. Percaya atau tidak, saya punya alasan untuk semua ini."
Wanita itu duduk di meja seberang si tua Jack yg kagum padanya. Dia menatap lekat-lekat ... "Jack, kau ingat aku?"
Si tua Jack melihat wajah wanita itu dengan lama, matanya berair. "Seharusnya saya mengenal anda - maksud saya, anda terlihat akrab pada saya."
"Saya mungkin sedikit lebih dewasa," katanya. "Atau mungkin saya sudah lebih gemuk dibanding ketika saya lebih muda dan anda masih bekerja di sini. Saya datang melalui itu pintu itu, dingin dan lapar."
"Bu?" Pak Polisi bertanya-tanya. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yg terlihat kaya ini ternyata pernah merasakan kelaparan.
"Saya baru saja lulus dari perguruan tinggi," wanita itu mulai bercerita. "Saya datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi aku tidak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya saya hanya punya beberapa sen terakhir dan saya ditendang keluar dari tempat kost saya. Saya berjalan kemana-mana selama beberapa hari. Saat itu bulan Februari dan saya dingin dan hampir kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk untuk sebuah kesempatan bahwa saya bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan. "
Mata Jack menyala dengan senyum. "Sekarang saya ingat," katanya .. "Saya berada di belakang meja kasir melayani pelanggan. Anda datang dan bertanya apakah Anda bisa bekerja apa saja untuk bisa mendapat makanan. Saya mengatakan bahwa itu melanggar kebijakan perusahaan."
"Saya tahu," lanjut wanita itu. "Kemudian Anda membuatkan untuk saya sandwich daging sapi panggang terbesar yang pernah saya lihat, memberi saya secangkir kopi, dan mengatakan kepada saya untuk pergi ke sebuah sudut meja dan menikmatinya. Aku takut bahwa Anda akan mendapatkan masalah ..... Tetapi ketika aku menoleh dan melihat Anda membayar harga makanan saya di kasir, aku tahu bahwa semuanya akan baik-baik. "
"Jadi Anda memulai bisnis Anda sendiri?" kata si tua Jack.
"Saya mendapatkan pekerjaan pada sore hari itu. Saya memulai karir saya dan akhirnya saya memulai bisnis saya sendiri, dimana dengan bantuan Tuhan, menjadi sukses." Wanita itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Setelah anda selesai di sini, saya ingin anda menemui Pak Lyons ... Dia adalah direktur personalia perusahaan saya. Saya akan bicara dengan dia sekarang dan saya yakin dia akan menemukan sesuatu yg bisa Anda lakukan di kantor kami. " Wanita itu tersenyum. "Saya pikir Pak Lyons mungkin bahkan bisa memberikan sedikit dana untuk anda sehingga dapat membeli beberapa pakaian dan mendapatkan tempat tinggal sampai Anda mampu untuk berdikari ... Jika Anda membutuhkan sesuatu, pintu selalu terbuka untuk Anda . "
Air mata menetes di mata orang tua itu. "Bagaimana saya bisa berterima kasih?" dia berkata.
"Jangan berterima kasih pada saya," jawab wanita itu. "Bagi Tuhan semua kemuliaan. Terima kasih Yesus ...... Dia membawa saya menemuimu."
Di luar cafe, polisi dan wanita itu berhenti di pintu masuk sebelum mereka berpisah ....
"Terima kasih atas semua bantuan Anda, pak polisi," katanya.
"Sebaliknya, Ibu Eddy," jawabnya. "Terima kasih. Saya melihat keajaiban hari ini, sesuatu yang saya tidak akan pernah lupakan. Dan terima kasih untuk kopinya."
Mari kita mulai hari Ini dengan sikap yang benar dalam hati kita.
Anda dapat memberkati mereka dengan apa yang Anda miliki
Pria itu perlahan mendongak.
Ini jelas seorang wanita kelas atas yg terbiasa dengan hal2 terbaik dari kehidupan seperti mantel barunya. Dia tampak seperti tidak pernah melewatkan hidangan makan dalam hidupnya.
Pikiran pertama adalah bahwa wanita itu ingin mengolok-olok dia, seperti banyak yg telah orang lain lakukan sebelumnya .
"Tinggalkan aku sendiri," geram pria itu ....
Sangat mengherankan, wanita itu terus berdiri di depannya.
Dia tersenyum dengan gigi putih berbaris dan menyilaukan. "Apakah kau lapar?" wanita itu bertanya.
"Tidak," jawab pria itu sinis. "Aku baru saja makan bersama presiden. Sekarang pergilah kau."
Senyum wanita itu menjadi lebih lebar. Tiba-tiba pria itu merasakan tangan lembut di bawah lengannya.
"Apa yang kau lakukan?" pria itu bertanya dengan marah. "Saya katakan, tinggalkan aku sendiri.”
Dari kejauhan seorang polisi datang mendekat. "Apakah ada masalah, Bu?" tanya pak polisi.
"Tidak ada masalah di sini, pak," jawab wanita itu. "Aku hanya berusaha untuk membantu pria ini berdiri. Maukah Anda menolong saya?"
Polisi itu menggaruk kepalanya. "Itu si tua Jack. Dia sudah tinggal menetap di sini selama bertahun-tahun. Apa yang Anda inginkan dengan Jack?"
"Lihat cafe di sana?" tanya wanita itu. "Aku akan membelikan sesuatu untuk dimakan dan menghindarkan pria ini dari hawa dingin untuk sementara."
"Apakah kau gila?" pria tunawisma menolak maksud baik wanita itu. "Saya tidak ingin masuk ke sana!" Lalu ia merasa tangan yang kuat menyambar lengannya yg lain dan mengangkatnya. "Biarkan aku pergi, pak polisi. Saya tidak melakukan apa-apa."
"Ini adalah kesempatan yang baik untuk Anda, Jack" polisi itu menjawab. "Jangan mensia-siakan itu .."
Akhirnya, dan dengan susah payah, wanita dan polisi membawa Jack ke cafe dan mendudukkan dia di sebuah sudut meja. Saat itu pagi menjelang siang, sehingga sebagian besar dari kerumunan orang untuk sarapan telah pergi dan waktu makan siang belum tiba ...
Manager di cafe itu berjalan menuju meja. "Apa yang terjadi di sini, pak?" Dia bertanya. "Apakah pria ini dalam kesulitan?"
"Wanita ini membawa pria ini di sini untuk diberi makan," jawab polisi itu.
"Tidak di sini!" Manager itu menjawab dengan marah. "Melayani orang seperti ini di sini adalah buruk bagi bisnis kami."
Si tua Jack tersenyum menyeringai ompong. "Hi wanita, lihatkah. Aku sudah bilang begitu. Sekarang jika Anda akan membiarkan saya pergi. Saya tidak ingin datang ke sini lagi."
Wanita itu berpaling ke manager cafe dan tersenyum : "Pak, apakah Anda kenal baik dengan perusahaan Eddy and Associates, perusahaan keuangan di jalan seberang?"
"Tentu saja saya kenal baik," manager itu menjawab dengan tidak sabar. "Mereka mengadakan pertemuan mingguan mereka di salah satu ruang istimewa di cafe saya ini."
"Dan anda mendapatkan sejumlah besar uang dengan menyediakan makanan di pertemuan-pertemuan mingguan itu, bukan?" sahut wanita itu.
"Apa hubungannya dengan Anda?" jawab manager cafe.
“Saya adalah Penelope Eddy, President dan CEO dari perusahaan Eddy and Associates.”
"Oh."
Wanita itu tersenyum lagi. "Saya pikir siapa saya mungkin bisa membuat perbedaan." Wanita itu melirik polisi yang sibuk menahan tawa. "Apakah Anda ingin bergabung dengan kami untuk makan, pak polisi?"
"Tidak, terima kasih, Bu," jawab polisi itu. "Saya sedang bertugas."
"Atau, mungkin, secangkir kopi untuk menemani anda bertugas?"
"Ya, Bu. Itu bagus, terima kasih."
Manager cafe berbalik, "Aku akan menyediakan kopi anda segera, pak polisi."
Polisi itu mengawasinya berjalan pergi. "Anda pasti sudah membuat dia malu" katanya.
"Itu bukan maksud saya. Percaya atau tidak, saya punya alasan untuk semua ini."
Wanita itu duduk di meja seberang si tua Jack yg kagum padanya. Dia menatap lekat-lekat ... "Jack, kau ingat aku?"
Si tua Jack melihat wajah wanita itu dengan lama, matanya berair. "Seharusnya saya mengenal anda - maksud saya, anda terlihat akrab pada saya."
"Saya mungkin sedikit lebih dewasa," katanya. "Atau mungkin saya sudah lebih gemuk dibanding ketika saya lebih muda dan anda masih bekerja di sini. Saya datang melalui itu pintu itu, dingin dan lapar."
"Bu?" Pak Polisi bertanya-tanya. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yg terlihat kaya ini ternyata pernah merasakan kelaparan.
"Saya baru saja lulus dari perguruan tinggi," wanita itu mulai bercerita. "Saya datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi aku tidak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya saya hanya punya beberapa sen terakhir dan saya ditendang keluar dari tempat kost saya. Saya berjalan kemana-mana selama beberapa hari. Saat itu bulan Februari dan saya dingin dan hampir kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk untuk sebuah kesempatan bahwa saya bisa mendapatkan sesuatu untuk dimakan. "
Mata Jack menyala dengan senyum. "Sekarang saya ingat," katanya .. "Saya berada di belakang meja kasir melayani pelanggan. Anda datang dan bertanya apakah Anda bisa bekerja apa saja untuk bisa mendapat makanan. Saya mengatakan bahwa itu melanggar kebijakan perusahaan."
"Saya tahu," lanjut wanita itu. "Kemudian Anda membuatkan untuk saya sandwich daging sapi panggang terbesar yang pernah saya lihat, memberi saya secangkir kopi, dan mengatakan kepada saya untuk pergi ke sebuah sudut meja dan menikmatinya. Aku takut bahwa Anda akan mendapatkan masalah ..... Tetapi ketika aku menoleh dan melihat Anda membayar harga makanan saya di kasir, aku tahu bahwa semuanya akan baik-baik. "
"Jadi Anda memulai bisnis Anda sendiri?" kata si tua Jack.
"Saya mendapatkan pekerjaan pada sore hari itu. Saya memulai karir saya dan akhirnya saya memulai bisnis saya sendiri, dimana dengan bantuan Tuhan, menjadi sukses." Wanita itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Setelah anda selesai di sini, saya ingin anda menemui Pak Lyons ... Dia adalah direktur personalia perusahaan saya. Saya akan bicara dengan dia sekarang dan saya yakin dia akan menemukan sesuatu yg bisa Anda lakukan di kantor kami. " Wanita itu tersenyum. "Saya pikir Pak Lyons mungkin bahkan bisa memberikan sedikit dana untuk anda sehingga dapat membeli beberapa pakaian dan mendapatkan tempat tinggal sampai Anda mampu untuk berdikari ... Jika Anda membutuhkan sesuatu, pintu selalu terbuka untuk Anda . "
Air mata menetes di mata orang tua itu. "Bagaimana saya bisa berterima kasih?" dia berkata.
"Jangan berterima kasih pada saya," jawab wanita itu. "Bagi Tuhan semua kemuliaan. Terima kasih Yesus ...... Dia membawa saya menemuimu."
Di luar cafe, polisi dan wanita itu berhenti di pintu masuk sebelum mereka berpisah ....
"Terima kasih atas semua bantuan Anda, pak polisi," katanya.
"Sebaliknya, Ibu Eddy," jawabnya. "Terima kasih. Saya melihat keajaiban hari ini, sesuatu yang saya tidak akan pernah lupakan. Dan terima kasih untuk kopinya."
Mari kita mulai hari Ini dengan sikap yang benar dalam hati kita.
Anda dapat memberkati mereka dengan apa yang Anda miliki
Friday, 13 January 2017
Nilai Seikat Kembang
Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum, kemudian berjalan menuju pos penjaga kuburan. "Pak, maukah anda menemui wanita di dalam mobil itu? Menurut dokter, mungkin sebentar lagi dia akan meninggal & dia mau bertemu bapak." Ujarnya pada penjaga kubur itu.
Sang Penjaga Kubur menemui wanita itu, penjaga kubur pun melihat seorang wanita yg lemah, berwajah sedih, tdk punya pengharapan.
Sambil tetap duduk di mobil, wanita itu berkata kpd penjaga kubur:
"Saya Ny. Roberts, selama ini mengirim uang tiap 2 minggu sekali kepada Anda, untuk membeli kembang-kembang kemudian menaruhnya di atas makam suami & anak saya. Hari ini saya datang untuk mengucapkan terima kasih pada Bapak."
"Ooo, jadi nyonya yang selalu kirim uang itu? Sebelumnya, saya minta maaf. Uang tersebut memang saya belikan kembang, tapi tidak pernah saya letakkan di atas makam suami & anak nyonya." Jawab penjaga kubur.
"Apa ....? Kenapa ....?!" Tanya wanita itu dgn sangat gusar.
"Ya, saya memberikan kembang2 itu kpd mereka yang di rumah sakit, orang miskin yg saya jumpai atau mereka yg sedang sedih. Mereka bahagia, menikmati keindahan & keharumannya." Jelas pria itu.
Wanita itu terdiam & kemudian pergi.
3 bulan kemudian, si penjaga kubur didatangi oleh seorang wanita cantik, berjalan menuju posnya.
"Selamat siang, apakah Bapak masih ingat saya ? Saya Ny. Roberts. Saya datang mengucapkan terima kasih. Tindakan bapak telah menyadarkan saya, bahwa memperhatikan mereka yg masih hidup, jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yg sudah meninggal."
"Ketika saya melakukan hal yang sama, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia."
"Sampai saat ini, para dokter pun tidak tahu kenapa saya tiba-tiba bisa sembuh. Tapi saya yakin, bahwa Sukacita , Syukur & Pengharapan itulah obat yang telah menyembuhkan saya."
Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Sang Penjaga Kubur menemui wanita itu, penjaga kubur pun melihat seorang wanita yg lemah, berwajah sedih, tdk punya pengharapan.
Sambil tetap duduk di mobil, wanita itu berkata kpd penjaga kubur:
"Saya Ny. Roberts, selama ini mengirim uang tiap 2 minggu sekali kepada Anda, untuk membeli kembang-kembang kemudian menaruhnya di atas makam suami & anak saya. Hari ini saya datang untuk mengucapkan terima kasih pada Bapak."
"Ooo, jadi nyonya yang selalu kirim uang itu? Sebelumnya, saya minta maaf. Uang tersebut memang saya belikan kembang, tapi tidak pernah saya letakkan di atas makam suami & anak nyonya." Jawab penjaga kubur.
"Apa ....? Kenapa ....?!" Tanya wanita itu dgn sangat gusar.
"Ya, saya memberikan kembang2 itu kpd mereka yang di rumah sakit, orang miskin yg saya jumpai atau mereka yg sedang sedih. Mereka bahagia, menikmati keindahan & keharumannya." Jelas pria itu.
Wanita itu terdiam & kemudian pergi.
3 bulan kemudian, si penjaga kubur didatangi oleh seorang wanita cantik, berjalan menuju posnya.
"Selamat siang, apakah Bapak masih ingat saya ? Saya Ny. Roberts. Saya datang mengucapkan terima kasih. Tindakan bapak telah menyadarkan saya, bahwa memperhatikan mereka yg masih hidup, jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yg sudah meninggal."
"Ketika saya melakukan hal yang sama, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia."
"Sampai saat ini, para dokter pun tidak tahu kenapa saya tiba-tiba bisa sembuh. Tapi saya yakin, bahwa Sukacita , Syukur & Pengharapan itulah obat yang telah menyembuhkan saya."
Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Wednesday, 28 December 2016
Anak Kecil Penjual Kue
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan.
Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dek saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda.
Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.
Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta.
Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?".
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang.
Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
***
2 Tesalonika 3:10b "...., jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."
Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dek saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda.
Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.
Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta.
Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?".
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang.
Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
***
2 Tesalonika 3:10b "...., jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."
Tuesday, 27 December 2016
Bocah Pemotong Rumput
Cakep nih.., mengevaluasi apa yang kita kerjakan di tahun 2016 untuk memastikan kualitas yang lebih baik di tahun 2017
Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati terus tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.
Bocah: "Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?"
Ibu (di ujung telepon): "Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya".
Bocah: "Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu".
Ibu: "Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu".
Bocah (dgn sedikit memaksa): "Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan ibu".
Ibu: "Tidak, terima kasih".
Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik Toko: "Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan".
Bocah: "Tidak. Makasih".
Pemilik Toko: "Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan".
Bocah: "Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!"
Hikmah yang bisa kita petik, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan di tahun 2016 untuk memastikan kualitas yang lebih baik di tahun 2017
WAKTU seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah KEMBALI.
Tahun Baru 2017 tinggal beberapa hari lagi, kita akan sambut dengan tetap menjaga ke ikhlasan, ketulusan, kejujuran dan berdamai dengan semua orang.
Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati terus tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.
Bocah: "Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?"
Ibu (di ujung telepon): "Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya".
Bocah: "Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu".
Ibu: "Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu".
Bocah (dgn sedikit memaksa): "Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan ibu".
Ibu: "Tidak, terima kasih".
Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik Toko: "Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan".
Bocah: "Tidak. Makasih".
Pemilik Toko: "Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan".
Bocah: "Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!"
Hikmah yang bisa kita petik, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan di tahun 2016 untuk memastikan kualitas yang lebih baik di tahun 2017
WAKTU seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah KEMBALI.
Tahun Baru 2017 tinggal beberapa hari lagi, kita akan sambut dengan tetap menjaga ke ikhlasan, ketulusan, kejujuran dan berdamai dengan semua orang.
Thursday, 8 December 2016
Pak Bagus
Ada seorang teman, Pak Bagus namanya.
Beliau adalah seorang guru yang sangat ceria, menyenangkan dan kocak.
Siapapun yang berada di dekatnya merasa gembira ria.
Keunikannya adalah bahwa ia selalu berkata, "Bagus itu!" untuk segala hal. Di matanya segalanya adalah karunia.
Hujan?
"Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa"
Sakit?
"Bagus itu, saatnya untuk beristirahat"
Tidak naik kelas?
"Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam"
Dipecat?
"Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh menjadi pengusaha"
Di sisi lain ia perfeksionis luar biasa. Ia bisa melihat kesalahan sampai titik koma sekalipun. Bedanya dengan guru lain, ia tak pernah marah hanya gara-gara kurang titik koma. Ia akan dengan sangat teliti memberikan masukan.
"Tulisan kamu bagus. Kamu cukup kritis dan analitis. Supaya lebih sempurna, coba pelajari bagaimana kamu bisa menyusun kata-kata agar lebih meyakinkan. Bagus itu, kamu jadi tahu dan bisa belajar lebih baik lagi."
"Bagus itu" tak pernah ketinggalan.
Baginya semua muridnya punya perjalanannya masing-masing. Tak ada yang bodoh, tak ada yang kurang ajar.
Semua "bagus" dan bisa dibantu untuk "lebih bagus lagi." Di sinilah perannya sebagai seorang guru, untuk memberdayakan muridnya agar bisa mengeluarkan potensi terbesarnya.
Sebagai guru ia memilih untuk menjadi fasilitator, bukan instruktur. Ia memilih untuk bertanya, dan bukan memerintah. Ia memberdayakan, bukan mengoreksi.
Hal yang sama dilakukannya juga untuk semua temannya.
Tak ada korban gossip di matanya, karena semua orang "bagus" dan "hebat."
Ia bisa melihat kebaikan dari semua hal-hal sampai yang terkecil.
Istrinya, anaknya, teman-temannya, semua adalah berlian-berlian dalam hidupnya yang benar-benar disyukurinya.
Tak ada yang buruk, semua bagus.
Pak Bagus tak bisa dibilang ganteng, tapi melihat wajahnya semua orang merasa teduh. Wajah yang senyum terus.
Ia tak bisa dibilang kaya raya, tapi ia selalu sejahtera, selalu bisa berbagi dan menjadi tangan di atas.
Rejekinya adaaaaa saja. Seakan keberuntungan selalu ada di pihaknya. "Hoki" kalau kata orang.
Ia jarang sakit, dan keluarganya pun jarang sakit. Jadi hemat sekali mereka sebagai keluarga.
Itulah dia Pak Bagus, sebuah karunia bagi semua yang ada di sekitarnya.
Karena kita semua tak bisa mengeluh, tak bisa bergossip, tak bisa marah, karena semua dijawab dengan, "Bagus itu!"
Dan teman-temannya yang sudah siap mengeluh pun jadi berfikir, "Ia juga ya. Keluhanku itu sebenarnya bagus. Kenapa nggak terfikir kemarin-kemarin ya?"
Nah, teman-teman, kalau ada yang mau mengeluh, bayangkan ada Pak Bagus di samping dan langsung saja bilang, "Bagus itu." Itu dulu.
Nanti otak kita akan langsung mencerna dan mencari "bagusnya" di mana. Otak pintar kok. Ia akan menyesuaikan diri pada kata-kata kita.
Kalau ada yang mau gossip dekat kita, langsung jawab, "Dia suka marah-marah? Bagus itu. Jadi kita tahu dimarahin itu nggak enak. Sekarang kamu punya jalan dapat pahala kan?"
Kalau ada yang kesal gara-gara kehilangan barang, "Bagus itu. Siapa tahu kamu kurang sedekah. Bagus cuma kehilangan barang itu. Kalau hidupmu yang diambil, gimana?"
Ada yang nangis baru bercerai,
"Bagus itu. Kamu bisa cari yang lebih bagus lagi."
Semua bagus...
Karena semua kejadian terjadi sebagai akibat atas perbuatan kita sendiri, dan semua mengajarkan kepada kita untuk menanam kebaikan, agar kita memanen kebaikan pula.
Kita saja yang seringkali sulit mencari hikmah di balik semua kejadian.
Semua orang pun baik apa adanya, karena di dalam diri semua orang, bersemayamlah Sang Maha Bagus.
Semua yang hadir dalam kehidupan kita memberi pelajaran, agar kita bisa lebih bagus lagi dalam hidup, lebih dekat lagi dengan sesama kita, dan bersedia mempersembahkan yang paling bagus buat sesama kita.
Semua bagus. Semua indah.😁
Beliau adalah seorang guru yang sangat ceria, menyenangkan dan kocak.
Siapapun yang berada di dekatnya merasa gembira ria.
Keunikannya adalah bahwa ia selalu berkata, "Bagus itu!" untuk segala hal. Di matanya segalanya adalah karunia.
Hujan?
"Bagus itu, banyak berkah, saatnya berdoa"
Sakit?
"Bagus itu, saatnya untuk beristirahat"
Tidak naik kelas?
"Bagus itu, jadi kamu bisa belajar lebih dalam"
Dipecat?
"Bagus itu, saatnya belajar sungguh-sungguh menjadi pengusaha"
Di sisi lain ia perfeksionis luar biasa. Ia bisa melihat kesalahan sampai titik koma sekalipun. Bedanya dengan guru lain, ia tak pernah marah hanya gara-gara kurang titik koma. Ia akan dengan sangat teliti memberikan masukan.
"Tulisan kamu bagus. Kamu cukup kritis dan analitis. Supaya lebih sempurna, coba pelajari bagaimana kamu bisa menyusun kata-kata agar lebih meyakinkan. Bagus itu, kamu jadi tahu dan bisa belajar lebih baik lagi."
"Bagus itu" tak pernah ketinggalan.
Baginya semua muridnya punya perjalanannya masing-masing. Tak ada yang bodoh, tak ada yang kurang ajar.
Semua "bagus" dan bisa dibantu untuk "lebih bagus lagi." Di sinilah perannya sebagai seorang guru, untuk memberdayakan muridnya agar bisa mengeluarkan potensi terbesarnya.
Sebagai guru ia memilih untuk menjadi fasilitator, bukan instruktur. Ia memilih untuk bertanya, dan bukan memerintah. Ia memberdayakan, bukan mengoreksi.
Hal yang sama dilakukannya juga untuk semua temannya.
Tak ada korban gossip di matanya, karena semua orang "bagus" dan "hebat."
Ia bisa melihat kebaikan dari semua hal-hal sampai yang terkecil.
Istrinya, anaknya, teman-temannya, semua adalah berlian-berlian dalam hidupnya yang benar-benar disyukurinya.
Tak ada yang buruk, semua bagus.
Pak Bagus tak bisa dibilang ganteng, tapi melihat wajahnya semua orang merasa teduh. Wajah yang senyum terus.
Ia tak bisa dibilang kaya raya, tapi ia selalu sejahtera, selalu bisa berbagi dan menjadi tangan di atas.
Rejekinya adaaaaa saja. Seakan keberuntungan selalu ada di pihaknya. "Hoki" kalau kata orang.
Ia jarang sakit, dan keluarganya pun jarang sakit. Jadi hemat sekali mereka sebagai keluarga.
Itulah dia Pak Bagus, sebuah karunia bagi semua yang ada di sekitarnya.
Karena kita semua tak bisa mengeluh, tak bisa bergossip, tak bisa marah, karena semua dijawab dengan, "Bagus itu!"
Dan teman-temannya yang sudah siap mengeluh pun jadi berfikir, "Ia juga ya. Keluhanku itu sebenarnya bagus. Kenapa nggak terfikir kemarin-kemarin ya?"
Nah, teman-teman, kalau ada yang mau mengeluh, bayangkan ada Pak Bagus di samping dan langsung saja bilang, "Bagus itu." Itu dulu.
Nanti otak kita akan langsung mencerna dan mencari "bagusnya" di mana. Otak pintar kok. Ia akan menyesuaikan diri pada kata-kata kita.
Kalau ada yang mau gossip dekat kita, langsung jawab, "Dia suka marah-marah? Bagus itu. Jadi kita tahu dimarahin itu nggak enak. Sekarang kamu punya jalan dapat pahala kan?"
Kalau ada yang kesal gara-gara kehilangan barang, "Bagus itu. Siapa tahu kamu kurang sedekah. Bagus cuma kehilangan barang itu. Kalau hidupmu yang diambil, gimana?"
Ada yang nangis baru bercerai,
"Bagus itu. Kamu bisa cari yang lebih bagus lagi."
Semua bagus...
Karena semua kejadian terjadi sebagai akibat atas perbuatan kita sendiri, dan semua mengajarkan kepada kita untuk menanam kebaikan, agar kita memanen kebaikan pula.
Kita saja yang seringkali sulit mencari hikmah di balik semua kejadian.
Semua orang pun baik apa adanya, karena di dalam diri semua orang, bersemayamlah Sang Maha Bagus.
Semua yang hadir dalam kehidupan kita memberi pelajaran, agar kita bisa lebih bagus lagi dalam hidup, lebih dekat lagi dengan sesama kita, dan bersedia mempersembahkan yang paling bagus buat sesama kita.
Semua bagus. Semua indah.😁
Subscribe to:
Posts (Atom)















